Minggu, 07 September 2014
Engkau yang kurindukan
Tidakkah kau mengerti aku?
Alasanku ada disini adalah kamu
Mataku tertutup
Tak mampu bicara
Hanya berharap sendiri
Walau dadaku sakit
Walau jariku gemetar
Hanya kau yang kupikirkan,
saat ini
Orang yang kurindukan, saat
ini
Suaramu yang ingin ku dengar, saat
ini
Dimanakah kau berada
Orang yang kurindu dan terpancang
dalam dadaku
Aku akan menyayangimu selamanya
Aku harus bagaimana?
Engkau yang bersikap dingin
Tetapi tetap kurindukan
Dan tak bisa melupakanmu
Minggu, 04 Mei 2014
I Can't forget You
Hanya
kau yang pergi menjauh
Sebanyak
apapun aku mencintaimu,
Meskipun
aku merasakan sakit dan seperti orang bodoh
Meskipun
tak dapat melihatmu lagi
Saat
kita berpapasan
Kita
menjadi orang yang tak saling mengenal
Siapapun
itu akan tertinggal tangisan dalam hati
Aku
benci dengan ekspresi wajahmu
Ini
saatnya berpisah dan selamat tinggal
Entah
mengapa sepertinya kau meremehkan ucapanku yang tiba-tiba
Dimulai
dari manakah kesalahan ini?
Awal
dan akhir yang sangat berbeda jauh
Mengapa ini seperti rasa sakit yang menusuk jantungku?
Dalam sekejap perasaanku yang meluap-luap menjadi hancur dan hampa
Bagaimana aku akan membangkitkan diriku lagi?
Dalam sekejap perasaanku yang meluap-luap menjadi hancur dan hampa
Bagaimana aku akan membangkitkan diriku lagi?
Kapan
isi kepalaku akan menghapusmu ?
Satu
hari, dua hari, satu bulan, mungkin jauh bertahun-tahun kemudian
Dan suatu saat nanti aku tidak akan lagi menjadi orang yang ada dalam ingatanmu
Kau akan menghapusku
Dan suatu saat nanti aku tidak akan lagi menjadi orang yang ada dalam ingatanmu
Kau akan menghapusku
Brother, I
can’t forget YOU
Sabtu, 05 April 2014
Surat Amplop Biru
Entah ada apa
dengan malam ini, mataku terus berdenyut-denyut disebelah kiri, mataku tak
dapat terpejam ditengah larutnya malam, lamunanku tidak menentu, jantungku pun
berdetak lebih cepat dari darah ku yang mengalir lebih deras, aku seperti
sedang diatas awan yang melambung tinggi terbawa angin.
Aku mencoba memahami apa yang terjadi dimalam itu ,
setelah aku ikuti kata hatiku ternyata aku teringat seseorang yang jauh nan
disana, jauh dari kelopak mata dialah Aiya, seseorang yang pernah singgah
dihatiku dan telah pergi seperti debu diatas telapak tangan yang terhembus
angin lalu terbang tidak tentu arah dan tidak tahu kemana arah itu .
|
Namaku adalah Arif seorang cowok yang selalu
tersakiti dengan perasaan, sampai saat ini aku belum bisa melupakan bayangan
itu, bayangan yang selalu hadir disetiap mimpiku, aku sangat membenci dia,
tetapi entah mengapa semakin aku benci semakin dalam rasa sakit di hati ini.
Aku mencoba menghibur perasaanku dengan memutar MP3, tiba-tiba air mataku mentes dipipiku,” Dapatkah waktu kan memberi aku saat indah bersamamu mungkinkah aku kan mencintaimu disetiap hembus nafasmu.. sampai akhir hidupku” lagu dari The Titans itu yang membuat aku meneteskan air mataku untuk seseorang yang telah merusak hidupku.
6 bulan berlalu...
Aku mencoba menghibur perasaanku dengan memutar MP3, tiba-tiba air mataku mentes dipipiku,” Dapatkah waktu kan memberi aku saat indah bersamamu mungkinkah aku kan mencintaimu disetiap hembus nafasmu.. sampai akhir hidupku” lagu dari The Titans itu yang membuat aku meneteskan air mataku untuk seseorang yang telah merusak hidupku.
6 bulan berlalu...
Aku sudah mulai terbiasa dengan
kesendirianku dan sudah bisa melupakan seseorang, aku telah berjanji aku tidak akan
pernah mengingat-mengingat tentang dia dan mendengarkan namanya dalam hidupku
maupun dalam mimpiku.
Pukul 07.00 aku harus masuk sekolah, bersama
motor tercinta yang selalu menemaniku kemanapun aku ingin perg dan kuparkirkan
motorku diantara kumpulan sepeda dan motor yang berjejer dengan rapih. Berjalan
didepan menuju pintu masuk kelas aku sudah melihat sahabatku. Rif, dia
memanggilku, dia adalah Ozy sahabat terbaiku, yang selalu ada disaat aku butuhkan,
selalu ada menemani hariku yang kesepian, aku dan Ozy selalu bersama-sama, aku
menghampirinya. “Tumben kamu lebih awal datangnya dari pada aku Zy?”, panggilku,
“tentu dong Rif, Ozy gitu”, ungkapnya. Kita pun masuk kelas menuju bangku dan
mengikuti pelajaran seperti mana biasanya.
Pelajaran hari ini telah usai, aku dan Ozy
keluar kelas menuju kantin. Kantin siang ini rasanya special karena
hanya aku dan Ozy yang ada disana dengan banyak makanan yang enak dan lezat.
Aku dan Ozy adalah siswa yang paling terkenal doyan makan dikantin tapi saat
ini rasa napsu makanku terlihat berkurang, “aku makan dulu ya soalnya aku sudah
laper banget nih, ga apa ya aku duluan?”, aku hanya tersenyum melihat Ozy.
Kami asyik mengobrol dikantin sampai makanan
habis, tanpa melihat jam dan menunjukan pukul 14.00. Tiba-tiba Ozy menepuk
bahuku, “Rif, aku lupa disuruh beli obat Asma untuk adikku, temani aku ya!”
sembari tersenyum tanda mengiyakan.
Aku dan Ozy beranjak dari tempat duduk
menuju parkir motor dan berangkat ke Poliklinik. Sembari duduk menunggu Ozy
dipanggil untuk membayar karena ramai. Tiba-tiba aku ingin berjalan-jalan
disekitar rumah sakit, disaat aku berjalan aku melihat seorang ibu yang sedang
menangis dan coba mendekat ternyata Ibu mila, ortu dari Aiya.
Rasa penasaranku “Assalammualaikum, bu” pada ibu Aiya, “waalaikumsalam, Arif” tiba-tiba memelukku “ibu kenapa?” keheranan “Ai...ya, Aiya sakit” dengan terbata-bata “Aiya, sakit apa bu?”. Sambil mengantarku masuk ke ruang ACU, betapa terkejutnya aku melihat Aiya terbaring lemas dengan selang-selang penopang hidupnya, tiba-tiba ibu “Aiya, sakit Jantung mungkin umurnya tak lama lagi” sambil memegang bahuku. Malam itu aku menginap di rumah sakit menemani Ibu Aiya. Sebelum tidur kami membisik“Selamat Ulang Tahun Aiya”aku dan ibu tidur di samping Aiya, tiba-tiba tangan Aiya bergerak sebagai tanda bahwa dia sudah sadar tepat pukul 12 malam. Semua orang berkumpul melihat Aiya siuman dan memberikan sebuah kejutan untuknya sebagai hadiah Ulang Tahunnya ke-17, kemudian Aiya menyuruh ku mengambil amplop biru di lemari. Hanya 1 jam kami bersama dan belum sempat aku buka amplop itu, tiba-tiba Aiya pingsan dan dokter menyuruh kami semua keluar dari kamar dimana Aiya dirawat. Saat aku berdoa agar Aiya bisa sadar kembali terdengar bisikan“Selamat Ulang Tahun Arif”suaranya terdengar mirip dengan Aiya, karena Ultah Aiya 20 Juni berbeda 1 hari saja. Beberapa saat kemudian dokter keluar dari kamar Aiya, maaf bu, kami telah berusaha semaksimal mungkin tetapi Tuhan telah berkehendak lain, ibu dan keluarga harus sabar ya ucap dokter itu kepada aku dan ibu Aiya juga suadaranya yang telah berkumpul, suara tangisan tak terbendung lagi, suasana berubah menjadi suasana kesedihan dan tangis di ruangan itu, aku pun tidak sanggup lagi untuk melihatnya walaupun untuk yang terakhir kalinya pada dia ditambah aku tidak kuasa melihat ibu Aiya yang telah jatuh pingsan.
Rasa penasaranku “Assalammualaikum, bu” pada ibu Aiya, “waalaikumsalam, Arif” tiba-tiba memelukku “ibu kenapa?” keheranan “Ai...ya, Aiya sakit” dengan terbata-bata “Aiya, sakit apa bu?”. Sambil mengantarku masuk ke ruang ACU, betapa terkejutnya aku melihat Aiya terbaring lemas dengan selang-selang penopang hidupnya, tiba-tiba ibu “Aiya, sakit Jantung mungkin umurnya tak lama lagi” sambil memegang bahuku. Malam itu aku menginap di rumah sakit menemani Ibu Aiya. Sebelum tidur kami membisik“Selamat Ulang Tahun Aiya”aku dan ibu tidur di samping Aiya, tiba-tiba tangan Aiya bergerak sebagai tanda bahwa dia sudah sadar tepat pukul 12 malam. Semua orang berkumpul melihat Aiya siuman dan memberikan sebuah kejutan untuknya sebagai hadiah Ulang Tahunnya ke-17, kemudian Aiya menyuruh ku mengambil amplop biru di lemari. Hanya 1 jam kami bersama dan belum sempat aku buka amplop itu, tiba-tiba Aiya pingsan dan dokter menyuruh kami semua keluar dari kamar dimana Aiya dirawat. Saat aku berdoa agar Aiya bisa sadar kembali terdengar bisikan“Selamat Ulang Tahun Arif”suaranya terdengar mirip dengan Aiya, karena Ultah Aiya 20 Juni berbeda 1 hari saja. Beberapa saat kemudian dokter keluar dari kamar Aiya, maaf bu, kami telah berusaha semaksimal mungkin tetapi Tuhan telah berkehendak lain, ibu dan keluarga harus sabar ya ucap dokter itu kepada aku dan ibu Aiya juga suadaranya yang telah berkumpul, suara tangisan tak terbendung lagi, suasana berubah menjadi suasana kesedihan dan tangis di ruangan itu, aku pun tidak sanggup lagi untuk melihatnya walaupun untuk yang terakhir kalinya pada dia ditambah aku tidak kuasa melihat ibu Aiya yang telah jatuh pingsan.
Setelah 3 hari pemakaman Aiya, aku mencoba
membuka amplop biru pemberian Aiya untuk ku, setalah aku membukanya dengan
tetesan air mata mengalir dipipiku.Aku melihat kalung berbentuk hati dan
sepucuk surat,
“Assalamualaikum
Arif, sebelumnya aku minta maaf padamu,
karena aku telah meninggalkan kamu tanpa ada kabar dan penjelasan yang jelas,
karena aku tidak ingin melihat seseorang yang aku sayang dan aku cintai harus
bersedih dan meneteskan air matanya hanya karena penyakit ku ini, aku pergi
agar kamu bisa melupakan aku dan mencari penggantiku kau juga boleh membenciku,
karena itu lebih baik daripada aku melihatmu kasihan dengan ku. Karena aku
ingin melihat mu bahagia bersama orang lain yang lebih sempurna dari pada aku
dan kalung ini aku berikan untuk mu dan penggantiku untukmu.
Wassalammualaikum.
AIYA
Cinta dan kasih sayang yang tulus akan
selalu berjalan beriringan,karena timbulnya cinta dan saling jujur diantara
kita kerana adanya rasa sayang dan takut kehilangan satu sama lain. Kehilangan
orang yang kita cintai dan sayang itu memang terasa sangat meyakitkan tetapi
kehilangan itulah yang akan membuat kita lebih tegar dan lebih mengerti akan
perasaan kita sendiri.
“ Move on. It’s just a chapter in the past.
But don’t close the book, just turn the
page.”
Langganan:
Postingan (Atom)

